Kamis, Oktober 11, 2007

PESAN VATIKAN DI AKHIR RAMADAN UNTUK IDUL FITRI 1428 H. / 2007 A.D.

MUSLIM DAN KRISTEN DIMINTA JADI “PENDIDIK PERDAMAIAN”

KOTA VATIKAN (UCAN, 1/10/2007) -- Vatikan meminta kaum Muslim untuk bekerja sama dengan umat Kristen demi perdamaian dan untuk meningkatkan penghormatan terhadap kebebasan beragama.

Jean-Louis Kardinal Tauran, ketua Dewan Kepausan Untuk Dialog Antaragama (PCID, Pontifical Council for Interreligious Dialogue), mengeluarkan himbauan ini pada 28 September dalam pesan tahunan yang dikirim Vatikan kepada kaum Muslim yang merayakan Idul Fitri. Pesta paling besar dalam penanggalan Islam ini mengakhiri bulan puasa Ramadan.

Pengamatan langsung bulan baru secara tradisional memulai sebuah bulan baru dalam kalender bulan Islam, dan kebanyakan kaum Muslim akan merayakan Idul Fitri pada 13 Oktober tahun ini. Tahun ini, dalam pesan Vatikan ini -- Umat Kristen dan Kaum Muslim Dipanggil Untuk Mempromosikan Kebudayaan Damai – kalender Islam (1428) dan penanggalan Barat diberikan.

"Dalam masa-masa sulit yang sedang kita lewati," tulis pesan itu, "umat beriman, sebagai hamba dari Yang Mahakuasa, bagaimanapun bertanggungjawab untuk mengupayakan perdamaian, dengan menunjukkan rasa hormat terhadap keyakinan-keyakinan individu dan komunitas di manapun melalui praktek kebebasan beragama."

Pesan ini juga menekankan pentingnya kebebasan beragama sebagai "hak setiap individu dan batu sendi dari hak asasi manusia."

Banyak lebih dari satu milyar kaum Muslim dunia berada di Asia, yang meliputi empat negara dengan penduduk Muslim terbesar: Indonesia, Pakistan, Banglades, dan India. Malaysia dan Brunei juga berpenduduk mayoritas Muslim, seperti halnya semua republik Asia Tengah. Lebih dari 2 milyar adalah umat Kristen, sehingga umat Kristen dan kaum Muslim bersama-sama meliputi sekitar separuh dari populasi dunia.

Monsignor Felix Machado, sekretaris PCID asal India, menjelaskan kepada UCA News di Roma, "Kebebasan beragama merupakan jantung hak asasi manusia, dan Gereja Katolik menjadi protagonis kebebasan beragama."

"Paus Paulus VI, Paus Yohanes Paulus II, dan sekarang Paus Benediktus XVI tidak pernah lalai menyuarakan kebebasan beragama sebagai hak asasi manusia yang fundamental,” katanya, dan “agama-agama lain, khususnya Islam, perlu memperhatikan aspek ini."

Monsignor itu menambahkan, "Problem pembatasan praktek agama masih sungguh akut di beberapa negara." Dia juga mengakui bahwa "masih ada banyak ketidaktahuan tentang agamanya sendiri, serta prasangka dan gagasan stereotip tentang agama orang lain." Karena alasan inilah, "ada suatu kebutuhan mendesak untuk mendidik umat beriman" dalam seluruh wilayah ini, katanya.

Monsignor Machado juga menunjukkan bahwa pesan Vatikan ini dikirim terlebih dahulu ke berbagai organisasi besar Islam internasional yang berdialog dengan Vatikan dan ke kedutaan-kedutaan besar dari negara-negara Muslim, serta ke berbagai konferensi waligereja.

Teks lengkap pesan PCID adalah sebagai berikut:

PESAN VATIKAN DI AKHIR RAMADAN UNTUK IDUL FITRI 1428 H. / 2007 A.D.


Kaum Muslim dan Umat Kristen: Dipanggil Untuk Mempromosikan Kebudayaan Damai

Rekan-Rekan Kaum Muslim Yang Terkasih,

1. Ini merupakan suatu kebahagiaan khusus bagi saya untuk pertama kali mengirim pesan hangat penuh persahabatan dari Dewan Kepausan Untuk Dialog Antaragama pada Hari Raya Idul Fitri Anda yang penuh kegembiraan di saat bulan puasa Ramadan yang penuh doa berakhir. Bulan ini selalu merupakan suatu kesempatan penting bagi komunitas kaum Muslim dan memberi setiap individu Muslim suatu kekuatan baru untuk eksistensi personal, keluarga, dan sosialnya. Penting bahwa semua kita memberi kesaksian tentang keyakinan agama kita dengan suatu kehidupan terus terintegrasi dan menyatu dengan rencana Sang Pencipta, suatu kehidupan menaruh perhatian pada pelayanan saudara-saudari kita dalam solidaritas dan persaudaraan yang semakin kental dengan penganut agama lain dan semua orang yang berkehendak baik, dengan kerinduan untuk bekerja sama demi kesejahteraan bersama.


2. Di masa-masa sulit yang sedang kita lewati, umat beragama, sebagai hamba dari Yang Mahakuasa, bagaimanapun bertanggungjawab untuk mengupayakan perdamaian, dengan memperlihatkan rasa hormat terhadap kebebasan hati nurani, yang merupakan hak individu dan komunitas di mana saja melalui praktek kebebasan beragama. Kebebasan beragama, yang tak boleh direduksi ke semata-mata kebebasan beribadat, merupakan satu dari aspek-aspek esensial kebebasan hati nurani, yang merupakan hak setiap individu dan batu sendi hak asasi manusia. Perlu dipertimbangkan persyaratan yang perlu bagi sebuah kebudayaan damai dan solidaritas di antara umat manusia untuk dibangun, yang di dalamnya setiap orang dapat sepenuhnya terlibat dalam pembangunan masyarakat yang terus meningkatkan persaudaraan, dengan melakukan apa saja untuk menyingkirkan, mengutuk, menolak setiap hal yang menimbulkan kekerasan yang tak pernah mungkin digerakkan oleh agama, karena kekerasan itu melukai citra Allah di dalam manusia. Kita tahu bahwa kekerasan, terutama terorisme yang menyerang secara membabi buta dan menjatuhkan korban tak berdosa yang tak terbilang jumlahnya, tidak mampu menyelesaikan konflik-konflik. Kekerasan itu hanya menciptakan mata rantai yang mematikan dari kebencian yang merusak, dan yang menciptakan kerusakan umat manusia dan masyarakat.


3. Sebagai umat beriman, semua itu terserah kepada kita apakah kita mau menjadi pendidik perdamaian, pendidik hak asasi manusia, pendidik kebebasan yang menghormati setiap pribadi. Selain itu, perlu juga ada kepastian tentang jalinan sosial yang senantiasa kuat, karena manusia harus memperhatikan saudara-saudarinya tanpa diskriminasi. Tidak ada individu dalam komunitas bangsa harus dikecualikan hanya karena alasan ras, agama, atau karakteristik pribadi lain apapun. Bersama-sama, sebagai penganut agama yang berbeda, kita dipanggil untuk menyebarkan suatu ajaran yang menghormati manusia. Kita dipanggil untuk menyebarkan sebuah pesan kasih di antara individu maupun bangsa. Kita secara khusus bertanggungjawab untuk memastikan bahwa orang-orang muda kita, yang akan memikul tanggung jawab terhadap dunia di masa depan, dibentuk dalam semangat ini. Bagaimanapun, ini merupakan tanggung jawab keluarga dan kemudian mereka yang terlibat dalam dunia pendidikan, dan para pemimpin masyarakat dan agama. Mereka semua bertugas untuk memperhatikan penyebaran suatu ajaran yang adil. Mereka harus menyediakan pendidikan yang memadai bagi setiap pribadi sesuai keadaan tertentu, terutama pendidikan kewarganegaraan yang mengajak setiap orang muda untuk menghormati orang-orang disekitarnya, dan untuk melihat mereka sebagai saudara-saudari yang bersamanya dipanggil untuk hidup setiap hari, bukan dengan bersikap acuh tak acuh, tetapi peduli sebagai saudara. Ini lebih mendesak dari apapun, dan ini perlu diajarkan kepada generasi muda tentang nilai-nilai kemasyarakatan, moral, dan kemanusiaan yang fundamental. Ini perlu baik untuk kehidupan komunitas dan personal.


Semua kekasaran harus digunakan untuk mengingatkan kaum muda tentang apa yang sedang menanti mereka dalam kehidupan sosial. Yang menjadi ukuran adalah kesejahteraan bersama dalam masyarakat dan di seluruh dunia.


4. Dalam semangat ini, adanya dan mendalamnya dialog antara umat Kristen dan kaum Muslim harus dianggap penting, baik dalam dimensi pendidikan maupun kultural. Maka segenap kekuatan dapat dikerahkan dalam pelayanan manusia dan kemanusiaan, sehingga generasi muda tidak menjadi blok budaya dan agama yang saling berlawanan, tetapi saudara dan saudari sejati dalam kemanusiaan. Dialog merupakan alat yang dapat membantu kita untuk keluar dari spiral konflik dan berbagai ketegangan terus menerus dalam masyarakat, sehingga segenap masyarakat dapat hidup tenang dan damai, saling menghormati, dan rukun di antara komponen kelompok.


Agar semua ini tercapai, dengan sepenuh hati saya mohon kepada kalian untuk sedikit memperhatikan kata-kata saya, sehingga, melalui kontak dan pertukaran, umat Kristen dan kaum Muslim akan bekerja sama dalam rasa saling menghormati demi perdamaian dan masa depan yang lebih baik bagi semua orang. Kerja sama itu akan menjadi teladan untuk diikuti dan ditiru oleh orang muda dewasa ini. Dengan begitu, mereka akan memiliki keyakinan yang baru dalam masyarakat dan akan melihat kemajuan dalam menyatu dan terlibat transformasi sosial. Pendidikan dan teladan juga akan menjadi sumber harapan bagi mereka di masa depan.


5. Ini adalah harapan penuh bersemangat yang saya bagikan dengan kalian: umat Kristen dan kaum Muslim terus mengembangkan hubungan yang konstruktif dan penuh persahabatan untuk saling berbagi kekayaan khusus mereka, dan bahwa mereka akan secara khusus memperhatikan mutu kesaksian dari sesama umat mereka.


Sahabat-sahabat Muslim yang terkasih, sekali lagi saya sampaikan salam hangat saya pada kesempatan pesta yang kalian rayakan dan saya mohon kepada Allah sumber Perdamaian dan Kerahiman untuk menganuegrahkan kesehatan yang baik, ketenangan, dan kemakmuran kepada kalian.


Jean-Louis Kardinal Tauran Uskup Agung Pier Luigi Celata

Ketua Sekretaris

Sabtu, Oktober 06, 2007

LIFE OF THE HOLY APOSTLE ANDREW THE FIRST CALLED

Andrew was at first a disciple of John the Baptizer along with John the Theologian. When the Forerunner pointed out Jesus as the Christ, they both became His disciples. Andrew took his brother, Saint Peter, to meet Jesus. He is called the Protokletos (the First Called) because he was the first Apostle to be summoned by Jesus into His service. Andrew and his brother Peter made their living as fishermen on the Sea of Galilee. Both men became Apostles, and while Peter symbolically came to represent the Church of the West, Andrew likewise represents the Church of the East.


The First Called, Apostle to Greece and Beyond

According to ecclesiastical tradition, Andrew began his missionary activity in the Provinces of Vithynia and Pontus on the southern shores of the Black Sea. Later he journeyed to the City of Byzantium and founded the Christian Church there, ordaining the first Bishop of Byzantium, Stachys, who was one of the 70 disciples of the Lord.

After Pentecost, Andrew taught in Byzantium, Thrace, Russia, Epiros, and Peloponnese. In Amisos, he converted the Jews in the temple, baptized them, healed their sick, built a church, and left a priest for them. In Bithynia, he taught, healed their sick, and drove away the wild beasts that bothered them. His prayers destroyed the pagan temples, and those who resisted his words became possessed and gnawed at their bodies until Andrew healed them.


The First Called, Wonderworker

In one of his several missionary journeys to Greece, Andrew visited the City of Patras. Through his preaching and the miracles of healing he performed, in the name of Jesus, many persons were converted to Christianity. Among those healed was Maximilla, the wife of the Roman Proconsul, Aegeates. Seeing this miracle of healing, Stratoklis, the highly intellectual brother of the Proconsul, also became a Christian, and Andrew consecrated and enthroned him as the first Bishop of Patras.

As a prophet, he foretold of the greatness of Kiev as a city and a stronghold of Christianity. In Sinope, he prayed for the imprisoned Apostle Matthias, and his chains fell from him and the cell door opened. The people beat Andrew, breaking his teeth, cutting his fingers, and left him for dead in a dung heap. Jesus appeared to him and healed him, telling him to be of good cheer. When the people saw him the next day, they were amazed and they believed. At another time, he raised a woman's only son from the dead.


The Crucifixion of the First Called

The conversions to the Christian Faith by members of his own family infuriated the Proconsul Aegeates, and he decided, with the urging of the idolators who advised him, to crucify Andrew. The crucifixion was carried out on an X-shaped cross with the body of the Apostle upside down so that he saw neither the earth nor his executioners, but only the sky which he glorified as the heaven in which he would meet his Lord. Aegeates had him tied to the cross in this manner so that he would live longer and suffer more.

Twenty thousand of the faithful stood by and mourned. Even then, Andrew taught them and exhorted them to endure temporary sufferings for the kingdom of heaven. Out of fear of the people, Aegeates came to remove Andrew from the cross. Andrew, however, said that Aegeates could still become a Christian, but that he had already seen Jesus and he would not allow himself to be removed from the cross. Many tried to undo the knots, but their hands all became numb. Suddenly, a heavenly light illumined Andrew for about a half hour. When it left, Andrew had given up his spirit.

His body was tenderly removed from the cross by Bishop Stratoklis and Maximilla, and buried with all of the honor befitting the Apostle. Soon countless numbers of Christians made their way to Patras to pay reverence to the grave of Andrew, and when Aegeates realized that the man he had put to death was truly a holy man of God a demon fell upon him and tormented him so powerfully that he committed suicide.


Re-burial in Constantinople

In the month of March in the year 357 the Emperor Constantine (son of Constantine The Great) ordered that the body of Saint Andrew be removed from Patras and be reinterred in the Church of the Holy Apostles in Constantinople. With all the magnificence and honor of the Byzantine Empire and the Great Church of Christ at Constantinople, Saint Andrew was returned to the City that had first heard the message of Jesus Christ from his lips. Thus he became in death, as well as in life, the founder of the Great Church of Christ in Constantinople. His relics are in Constantinople along with the Apostle Luke and Timothy, the disciple of Paul, in the Church of the Apostles.


Patron Saint of Scotland

The deeds and preaching of Andrew became known in all parts of the world. According to tradition a part of the remains of Andrew were taken to Scotland, and he was chosen as the Protector of the Scottish people. The Cross of Saint Andrew also adorns the British flag where it was placed after the union of Scotland and England. The skull of Andrew was kept in Patras until the year 1460 when Thomas Paleologos, the last ruler of the Morea, brought the skull to Rome. In 1967, under the orders of Pope Paul of the Roman Church, the skull was returned to Patras with all of the pomp and dignity of the Papal State. He remains the patron saint of Russia, Scotland and Romania to this day.


The Call of Saint Andrew

Today the voice of Saint Andrew continues to call on all Christians, especially the Orthodox Christians throughout the world, who celebrate his memory on November 30th in the liturgical year. His unstilled spirit beckons across the centuries proclaiming: "The Saviour of the world has come! He is the Christ, the Son of God!" This is the call of Saint Andrew to all men for "Jesus Christ is the same yesterday, today and tomorrow" (Hebrews 13:8).

Holy Apostle Andrew, pray to God for us!

Compiled, synthesized and edited by Andrew S. Damick.


"Semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai"

(Bar 4:5-12.27-29; Luk 10:17-24)

"Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga." Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu." Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya."(Luk 10:17-24), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


• Ketika saya berkarya di Keuskupan Agung Semarang dan tinggal di Wisma Keuskupan, kami mempunyai pembantu rumah tangga yang tidak lulus SD alias nampak bodoh, tetapi jujur, cekatan, rajin dan setia dalam melaksanakan tugas pekerjaannya setiap hari. Ia juga nampak bersyukur dan berterima kasih boleh `melayani' di Wisma Keuskupan. Mengingat hal itu sungguh menyentuh hati apa yang disabdakan/didoakan oleh Yesus: ": "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.". Orang pandai dan bijak pada umumnya hanya ngomong saja, jarang bertindak secara praktis sesuai dengan apa yang dibutuhkan dalam hidup sehari-hari. Apa yang kita butuhkan dalam hidup sehari-hari agar kita bahagia dan sejahtera rasanya adalah hal-hal atau perkara-perkara kecil dan
sederhana, bukan yang besar dan sulit berbelit-belit, misalnya makan, minum, tidur, istirahat, kebersihan kamar dan lingkungan dst.., dan yang mengusahakan atau mengerjakan hal-hal kecil dan sederhana tersebut adalah `orang-orang kecil'. Dari pembantu rumah tangga yang sederhana tersebut saya pribadi belajar dalam hal kejujuran, kecekatan, kerajinan dan kesetiaan serta kegairahan dan kegembiraan dalam melaksanakan tugas pekerjaan, dan tentu saja syukur dan terima kasih atas apa yang dialami dan sedang terjadi. Maka marilah kita perhatikan mereka yang kecil, hal-hal atau perkara-perkara kecil setiap hari. Orang-orang kecil pada umumnya mendengarkan dan memperhatikan kebutuhan hidup sehari-hari yang kecil dan sederhana tersebut. "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar." (Luk 16:10)


• "Kuatkanlah hatimu, anak-anakku, berserulah kepada Allah; Dia yang mengirim bencana itu akan teringat kepadamu pula. Seperti dahulu angan-angan hatimu tertuju untuk bersesat dari Allah, demikian hendaklah kamu sekarang berbalik untuk mencari Dia dengan sepuluh kali lebih rajin."(Bar 4:27-29). Kutipan ini rasanya tidak hanya untuk anak-anak saja melainkan bagi kita semua. Apa yang dikatakan dalam kitab Barukh tentang bagaimana angan-angan dan gairah kita ketika hendak berbuat jahat atau berdosa, kiranya pernah kita alami atau lakukan juga. Dengan penuh gairah dan semangat, entah sadar atau tidak sadar, kita melakukan dosa atau kejahatan, sehingga kita menderita dan sengsara seperti saat ini. Tidak ada kata terlambat, marilah kita bertobat atau memperbaharui diri, `berbalik untuk mencari Dia dengan sepuluh kali lebih rajin 'dibandingkan ketika berbuat jahat atau berdosa. Mungkin ketika berbuat dosa atau jahat kita sendirian saja, tetapi jika mau bertobat atau memperbaharui diri pasti banyak orang siap membantu kita, itulah artinya `sepuluh kali lebih rajin'. Percayalah dan imanilah jika kita sungguh berkehendak untuk bertobat atau memperbaharui diri pasti kasih karunia dan kemurahan hati Allah mengalir melimpah ruah melalui kebaikan dan kemurahan hati sesame dan saudara-saudari kita, dan dengan demikian kita akan berbalik kepada Allah dengan mudah dan ringan. Kutipan diatas kiranya juga merupakan ajakan atau panggilan bagi kita semua untuk tidak hidup sendiri/menyendiri atau berjuang sendirian, melainkan bekerjasama atau bergotong-royong, saling membantu dan mengasihi sampai mati.


"Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; kamu yang mencari Allah, biarlah hatimu hidup kembali! Sebab TUHAN mendengarkan orang-orang miskin, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya dalam tahanan. Biarlah langit dan bumi memuji-muji Dia, lautan dan segala yang bergerak di dalamnya." (Mzm 69:33-35)


Jakarta, 6 Oktober 2007

Rm. Maryo

Jumat, Oktober 05, 2007

CAMPING AKBAR KKMK KAJ 12-15 OKTOBER 2007

BINGUNG NGAK ADA TUJUAN BUAT LIBURAN???
ATAU... PUSING NGAK ADA GEBET'AN PAS LIBURAN...?? ?

UDAH NGAK USAH BINGUNG 'EN NGAK USAH PUSING....!! !

IKUT KITA AJA..... DIJAMIN YO000III... COOYY....

"MATURE IN NATURE"
[ CAMPING ] AKBAR KKMK KAJ 2007
CIPELANG @ SUKABUMI
12 - 15 OKTOBER 2007


DENGAN ACARA YANG PASTI SERU PUNYA.....

Ada Green Hiking. trus bisa maen Team Building and Mind Game dengan
motivator Gim Hok.

Mau kenal lebih jauh tentang alam. Nanti kita bermain bersama pak Bintang
Nugroho dari PEPULIH

kalo yang punya kemampuan bisa tunjuk'in di Talent Performance.

Trus malemnya kita buat Api Unggun en sekalian BBQ
... atau mau coba-coba jadi Night Tracker...

'En Sama Romo kita akan buat Misa Muda yang asyik punya deh.!!!

Dan jangan lupa... di hari terakhir ada Estafet Cinta loh!
Pasti heboh deh...!!!

DIJAMIN... KAMU PASTI PUNYA BANYAK KESEMPATAN
Buat TePe-TePe (Tebar Pesona Bo!) deh...
BIAR DAPET GEBET'AN BARU...

Or Mau jadi BANCI KAMERA juga bisa... PASTI DEH....!!!

Lokasinya di
Bumi Perkemahan Perbawati
Cipelang - Jawa Barat.

BIAYA Ngak Mahal kok.... cuma 350 ribu Rupiah aja... (Rp.350.000) ..
Murah khan buat 4 Hari 3 Malam....
Dari tanggal 12 sampai 15 Oktober 2007

Pembayaran dapat ditransfer ke rekening BCA

No. Rek. 526 051 6932
Atas Nama : Saskia

Konfirmasi setelah transfer ke: Saskia

Peserta Kumpul di Gereja Katedral Jakarta, tgl 12 Oktober 2007 Pk. 06.30
pagi

Perlengkapan WAJIB yang harus dibawa:
Perlengkapan pribadi (Pakaian, Jaket, Sepatu, Sleeping Bag)
Peralatan makan (gelas, piring, sendok)
Obat-obatan pribadi.
Jas hujan / Payung / Ponco

INGAT!!!... Peserta Terbatas Hanya Untuk 200 Orang Saja

PENDAFTARAN PALING LAMBAT 6 OKTOBER 2007

Pendaftaran dan Informasi :
- Toni (0817 6798 029)
- Siska (0813 1002 8515/ 0888 6104 779)
- Saskia (0856 806 3770 / 021-30231370)
Atau melalui email ke : saskia@lautan- luas.com

Organized by:
Kelompok Karyawan Muda Katholik Keuskupan Agung Jakarta

FORM UNTUK PENDAFTARAN : [email ke saskia@lautan- luas.com]

1. Nama :

2. Alamat :

3. No telp/HP :

4. Tempat/Tgl Lahir :

5. Pekerjaan :

6. Alamat kantor :

7. Gereja/Paroki :



SEMINAR ANTHONY DIO MARTIN 24 OCT 2007

Jadilah Magnet Atas Suksesmu

Bagaimana Menarik Kesuksesan ke dalam Kehidupan Anda

Apakah Anda sering memperhatikan bagaimana orang yang sukses menjadi semakin sukses. Mereka seperti magnet yang bisa menarik hal-hal yang terbaik untuk terjadi dalam kehidupan mereka.

Coba bayangkan bagaimana perasaan Anda jika bisa

- Mewujudkan impian-impian dalam hidup Anda.

- Membuat hidup Anda berkelimpahan, bukan hanya secara materi tetapi juga penuh makna.

- Memberikan hal-hal terbaik bagi keluarga Anda dan orang-orang yang Anda cintai.

- Memberikan kehidupan yang lebih baik bagi orang-orang lain yang kurang beruntung.

Semua hal di atas akan terjadi dalam kehidupan Anda kalau Anda mengetahui bagaimana caranya menjadi magnet atas kesuksesan Anda. Anda akan mulai menarik kekayaan, kesuksesan, dan kebahagiaan ke dalam kehidupan Anda.

Anda akan belajar dari pembicara spesial kita, langkah demi langkah bagaimana Anda bisa menjadi magnet untuk mulai menarik hal-hal terbaik supaya terjadi dalam kehidupan Anda:

Anthony Dio Martin

Host dari acara Smart Emotion di Radio Smart FM (95,90 MHz) setiap hari Kamis Pk. 07.00 – 08.00 WIB

International Certified Hypnotherapist

Certified Master Practitioner Neuro Linguistics Program (NLP) dan Neuro Sematics (NS)

Penulis dari buku laris “Emotional Quality Management”, Manajemen Intrapreneurship “Pemburu & Petani” serta audiobook “Emotional Power” terbitan Gramedia.

Waktu: Rabu, 24 Oktober 2007 (Pk. 18.45 – 21.30 WIB)

Tempat: Aula Gedung Provinsialat MSC

Jl. K.H. Hasyim Ashari No.23

(Seberang Gereja BHK Kemakmuran dan Sekolah Tarsisius)

Investasi: Hanya Rp 75.000 (Transfer ke BCA-Cabang Jl.Panjang ACC. 755.0047424

a.n Hueriana Chendrawan)

(Note: mohon konfirmasi ke bagian informasi setelah transfer pembayaran dan bukti transfer

dibawa pada saat pendaftaran ulang)

Informasi: Karla (0816 17661699), Sisca (0816 1985961) Titin (021-998 23340 / 021-71642808)

Tempat terbatas –hanya 100 peserta – Segera daftarkan diri anda !!

Organized by KKMK KAJ

Rabu, Oktober 03, 2007

"Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang"


(Neh 2:1-8; Luk 9:57-62)


"Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: "Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Lalu Ia berkata kepada seorang lain: "Ikutlah Aku!" Tetapi orang itu berkata: "Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana." Dan seorang lain lagi berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku." Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah."(Luk 9:57-62), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


· "Demenyar" = demen sing anyar (=Suka apa yang baru), demikian rumor bahasa Jawa, yang menggambarkan sikap seseorang hanya suka atau bahagia terhadap apa-apa yang baru, sedangkan yang lama kurang diperhatikan bahkan dilecehkan. Ketika baru saja dibaptis nampak semangat iman dan beragama hebat, ketika baru saja saling berjanji menjadi suami-isteri alias menikah nampak bahagia dalam saling mengasihi, ketika baru saja kaul atau ditahbiskan imam nampak begitu bergairah dalam bekerja dan melayani, ketika menjadi pegawai baru bergairah dalam kerja, ketika menjadi pelajar atau mahasiswa baru giat belajar dst., tetapi dalam perjalanan waktu yang sarat dengan tantangan dan kesulitan serta hambatan, semangat dan sikap yang bergelora tersebut luntur. Dengan kata lain ketika menghadapi tantangan, hambatan atau kesulitan sering dengan mudah orang lebih baik mundur alias melupakan janji-janji yang pernah diikhrarkan dengan bangga: keimanan, kekatolikan, kemesraan dalam kasih, semangat dan sikap melayani, gairah belajar dan bekerja pudar semuanya. "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah", demikian sabda Yesus. Maka bercermin dari sabda Yesus ini marilah kita tetap setia pada panggilan dan tugas perutusan kita masing-masing, sehingga kita semakin beriman, saling mengasihi, melayani dan terampil dalam belajar maupun bekerja. Tantangan, hambatan dan kesulitan adalah wahana atau media pendewasaan kepribadian dan iman kita, maka jangan dihindari atau disingkiri, melainkan hadapilah dengan rendah hati dan bantuan Yang Ilahi. Orang yang menghindari atau menyingkiri tantangan dan kesulitan tersebut pasti akan menjadi kerdil dalam hal kepribadian dan keimanan, dan dengan demikian akan menjadi gangguan dalam hidup bersama. Marilah kita hadapi tantangan, hambatan dan kesulitan dengan 'tekad', dan hayati motto Bapak Andrie Wongso ini: "Tekad merupakan sumber motivasi bagi kemajuan dan kesuksesan! Mereka yang memiliki tekad yang kuat, dia bisa menciptakan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin".


· "Raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku" (Neh 2:8b), demikian kesaksian Nehemia yang terpanggil untuk membangun pekuburan nenek moyangnya. Kesaksian atau pengalaman ini rasanya inspiratif bagi kita semua, tentu saja tidak dalam hal memperbaiki kuburan nenek moyang secara phisik melainkan secara spiritual. Apa yang menjadi 'pekuburan nenek moyang' kiranya aneka macam peninggalan nenek moyang kita yang berupa ajaran atau nasehat-nasehat baik. Karena arus pertumbuhan dan perkembangan hidup bersama yang dijiwai oleh politik dan bisnis, maka ajaran atau nasehat dari nenek moyang tersebut dilupakan atau ditinggalkan, misalnya sopan santun, hormat terhadap sesama atau harkat martabat manusia dst. Sopan santun dan hormat terhadap sesama manusia masa kini rasanya mengalami erosi yang sangat memprihatinkan. Allah yang murah melindungi kita, maka marilah kita perbaiki cara hidup dan cara bertindak yang kurang/tidak sopan dan kurang/tidak menghormati harkat martabat manusia tersebut. Rasanya gerakan berdemokrasi, yang pada dasarnya itu bagus, tidak terkendali (Jawa: 'kebablasen') sehingga orang bertindak begitu bebas alias seenaknya tanpa memperhatikan dan memperhitungkan orang lain atau sesamanya, dan dengan demikian mereka 'mengubur' ajaran dan nasehat nenek moyang yang baik itu. Dengan rendah hati dan lemah lembut marilah kita tegor dan ingatkan saudara atau sesama kita yang bertindak atau berperilaku
seenaknya dan tidak tahu sopan santun maupun hormat terhadap harkat martabat manusia. Kita usahakan hidup bersama ini sungguh manusiawi, sehingga terbuka terhadap dan bertumbuh serta berkembang dengan mudah menuju ke Yang Ilahi.


"Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion. Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu kita menggantungkan kecapi kita. Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian, dan orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita: "Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion!" Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian TUHAN di negeri asing? Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku!" (Mzm 137:1-5)


Jakarta, 3 Oktober 2007

Rm. Ign. Sumarya, S.J.


Selasa, Oktober 02, 2007

"Ia berpaling dan menegor mereka"

(Za 8:20-23; Luk 9:51-56)

"Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?" Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain" (Luk 9:51-56), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta para Malaikat Pelindung hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· "Ia mengarahkan pandanganNya untuk pergi ke Yerusalem" berarti mengarahkan diriNya untuk memenuhi tugas perutusan dan panggilanNya menyelamatkan dunia dengan menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah dan dunia dan wafat di kayu salib. Ia siap sedia untuk menderita, diejek, diolok-olok, disakiti dan dibunuh oleh musuh-musuhNya, orang-orang yang tidak senang akan kehadiranNya. Memenuhi tugas perutusan atau cita-cita atau harapan yang baik dan mulia memang tidak akan terlepas dari penderitaan, korban dan perjuangan, dan para rasul nampaknya belum siap sehingga ketika mereka tahu ada orang-orang Samaria yang tidak akan menerimaNya, mereka berkata : " Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka". Yesus berpaling dan menegor mereka. Mungkin ketika kita sedang dalam 'perjalanan' melaksanakan tugas perutusan dan pekerjaan serta mengalami tantangan, hambatan dan kesulitan juga tergerak untuk menghindar atau mundur atau membunuh orang yang mempersulit kita. Ketika kita sedang memikirkan hal itu mungkin kita merasa tidak enak atau ada tegoran dalam hati, itulah peringatan atau tegoran dari Tuhan melalui malaikat-malaikatNya, yang melindungi dan mendampingi hidup dan perjalanan kita. Maka baiklah ketika memperoleh tegoran macam itu dan dalam suasana bimbang dan ragu, kita 'back to basic', kembali ke panggilan dan tujuan semula, ke niat atau cita-cita baik yang kita putuskan dalam terang iman dan doa. Dengan kata lain jangan lupa berdoa untuk mohon rahmat kekuatan dan perlindungan dari Tuhan ketika menghadapi tantangan, hambatan atau kesulitan; percaya dan imanilah bahwa Ia akan mengutus malaikatNya untuk menguatkan dan melindungi kita, sehingga kita tetap setia dan tegar dalam tugas perutusan dan panggilan. "Di balik setiap batu penghalang pasti ada hikmah yang tersembunyi, dan selalu ada pelajaran yang dapat mematangkan mental kita. hadapi dengan berani setiap batu penghalang", demikian motto Bapak Andrie Wongso, promotor handal di Indonesia.

· "Beginilah firman TUHAN semesta alam: "Masih akan datang lagi bangsa-bangsa dan penduduk banyak kota. Dan penduduk kota yang satu akan pergi kepada penduduk kota yang lain, mengatakan: Marilah kita pergi untuk melunakkan hati TUHAN dan mencari TUHAN semesta alam! Kami pun akan pergi" (Za.8:20-21). "Melunakkan hati Tuhan" berarti menghendaki agar Tuhan mengikuti dambaan atau kerinduan hati kita dan kita tidak sedia untuk mendengarkan dan melaksanakan kehendakNya. "Deus semper maior est" = Tuhan senantiasa lebih besar, maha segalanya, maka tidak mungkin manusia mengalahkan atau menaklukkan-Nya, sedangkan yang mungkin adalah orang tidak setia pada kehendak-Nya dan mengikuti kehendak sendiri atau selera masing-masing. Maka baiklah kita tidak mencoba-coba melunakkan hati Tuhan atau kehendak Tuhan, secara konkret melunakkan atau merelatifir aneka aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas perutusan kita. Aturan dan tatanan merupakan bantuan bagi kita, bagaikan malaikat pelindung, dalam menghayati dan melaksanakan panggilan, tugas perutusan dan pekerjaan. Setiap upaya atau usaha untuk melunakkan atau merelativir aturan, tatanan atau janji hemat saya berasal dari roh jahat atau setan. Memang untuk sementara, karena kelemahan dan kerapuhan kita ada kemungkinan untuk melunakkan atau merelativir, tetapi hendaknya kemudian tidak menjadi semakin lunak dan relatif, tetapi semakin setia dan taat pada tatanan, aturan dan janji sampai pada kepenuhannya. Maka marilah kita coba hayati atau meneladan motto Bapak Andrie Wongso di atas, agar kita semakin matang, dewasa dan cerdas beriman. Sekali lagi ingat dan hayatilah bahwa malaikat pelindung kita tidak pernah meninggalkan kita kapanpun dan dimanapun.

"Di gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangunkan-Nya: TUHAN lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion dari pada segala tempat kediaman Yakub. Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah." (Mzm 87:1-3)

Jakarta, 2 Oktober 2007

Rm. Ign. Sumarya, S.J.

Senin, Oktober 01, 2007

"Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?"

(Yes 66:10-14; Mat 18:1-5)


"Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku."(Mat 18:1-5), demikian
kutipan Warta Gembira hari ini.


Berefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Teresia dari Kanak-kanak Yesus, perawan dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


· Tambah usia, semakin tua dan berpengalaman pada umumnya juga bertambah dosanya, maka kiranya dapat diimani bahwa Yesus bersabda: "Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga". Seorang anak memang rendah hati: siap mendengarkan, polos, taat, jujur, ceria, dst.., dengan kata lain siap sedia diperlakukan apapun
oleh yang lain. Salah satu doa St.Teresia dari Kanak-kanak Yesus yang sungguh menarik adalah :"Yesus, tentu Engkau senang mempunyai mainan. Biralha saya menjadi mainanMu. Anggap saja saya ini bolaMu. Bila akan Kauangkat, betapa senanghatiku. Jika hendak Kausepak kian kemari, silahkan! Dan kalau hendak Kautinggalkan di pojok kamar lantaran bosa, boleh saja. Saya akan menunggu dengan sabar dan setia. Tetapi kalau hendak Kautusuk bolaMu...O, Yesus, tentu itu sakit sekali, namun terjadilah kehendakMu!" (Ensiklopedi Orang Kudus, Yayasan Cipta Loka - Jakarta, hal 292). Apa yang didoakan ini juga dihayati oleh St.Teresia, dengan kata lain ia sungguh menghayati keutamaan ketaatan dengan rendah hati. Keutamaan inilah kiranya yang juga harus kita mohon dari Tuhan dan kita hayati dalam hidup sehari-hari. Ketaatan pertama-tama memang taat kepada kehendak Tuhan, dan kehendak Tuhan antara lain dapat kita temukan atau jumpai juga dalam diri sesama kita yang berkehendak baik atau dalam berbagai aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas perutusan kita masing-masing. Ingat ketika kita dibaptis berjanji: "hanya mengabdi atau melayani Tuhan Allah saja dan menolak semua godaan setan"! Semangat dan sikap melayani erat kaitannya dengan keutamaan ketaatan dan kerendahan hati. Maka jika kita ingin menjadi besar dalam Kerajaan Sorga marilah hidup saling melayani dengan rendah hati.


· "Beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai, dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir; kamu akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan. Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu"(Yes 66:12-13) Kutipan ini kiranya inspiratif bagi kita semua yang hendak hidup dan bertindak melayani dengan rendah hati. Tindakan melayani dengan rendah hati hemat saya akan 'akan mengalirkan keselamatan seperti sungai, membuat orang lain semakin kaya akan keutamaan dan nilai-nilai serta memberi hiburan kepada yang dilayani'. Ingat cara hidup dan cara bertindak pelayan yang baik di rumah tangga , komunitas, atau tempat kerja: bukankah apa yang mereka kerjakan membuat kita semua selamat, gembira dan terhibur. Sebaliknya bukankah ketika tiada pelayan, entah pelayan sakit atau cuti seperti pada hari raya Idul Fitri, kita menjadi kalang kabut, situasi kurang selamat dan merasa terancam? Kutipan di atas mengangkat peran seorang ibu, yang menyusui, menggendong, membelai-belai dan menghibur anaknya, maka baiklah di sini saya mengingatkan dan mengajak para ibu atau rekan perempuan untuk mawas diri: kehadiran dan sepak terjang anda dimanapun dan kapanpun hendaknya menjadi 'hiburan' bagi orang lain atau sesama, tentu saja bukan hiburan murahan sebagaimana dilakukan oleh perempuan penghibur alias pelacur. Namun cara perempuan penghibur atau pelacur melayani dan membahagiakan tamunya, laki-laki hidung belang, kiranya dapat menjadi inspirasi, yaitu bagaimana kita memperlakukan orang lain atau sesama yang mendatangi kita. Hendaknya mereka yang mendatangi atau menyapa kita jangan dikecewakan atau menjadi sedih dan murung, melainkan dihibur dengan rendah hati. Marilah kita saling membantu dan meneguhkan dalam hal saling menghibur atau membahagiakan, karena kita adalah murid-murid atau pengikut Yesus, Pewarta Kabar Gembira. Marilah menjadi seperti anak kecil, yang senantiasa gembira, lucu, menarik dan siap sedia untuk diperlakukan apa saja oleh orang lain.


"TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!" (Mzm 131)


Jakarta, 1 Oktober 2007

Rm. Ign. Sumarya, S.J.