Rabu, Oktober 03, 2007

"Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang"


(Neh 2:1-8; Luk 9:57-62)


"Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: "Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Lalu Ia berkata kepada seorang lain: "Ikutlah Aku!" Tetapi orang itu berkata: "Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana." Dan seorang lain lagi berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku." Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah."(Luk 9:57-62), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


· "Demenyar" = demen sing anyar (=Suka apa yang baru), demikian rumor bahasa Jawa, yang menggambarkan sikap seseorang hanya suka atau bahagia terhadap apa-apa yang baru, sedangkan yang lama kurang diperhatikan bahkan dilecehkan. Ketika baru saja dibaptis nampak semangat iman dan beragama hebat, ketika baru saja saling berjanji menjadi suami-isteri alias menikah nampak bahagia dalam saling mengasihi, ketika baru saja kaul atau ditahbiskan imam nampak begitu bergairah dalam bekerja dan melayani, ketika menjadi pegawai baru bergairah dalam kerja, ketika menjadi pelajar atau mahasiswa baru giat belajar dst., tetapi dalam perjalanan waktu yang sarat dengan tantangan dan kesulitan serta hambatan, semangat dan sikap yang bergelora tersebut luntur. Dengan kata lain ketika menghadapi tantangan, hambatan atau kesulitan sering dengan mudah orang lebih baik mundur alias melupakan janji-janji yang pernah diikhrarkan dengan bangga: keimanan, kekatolikan, kemesraan dalam kasih, semangat dan sikap melayani, gairah belajar dan bekerja pudar semuanya. "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah", demikian sabda Yesus. Maka bercermin dari sabda Yesus ini marilah kita tetap setia pada panggilan dan tugas perutusan kita masing-masing, sehingga kita semakin beriman, saling mengasihi, melayani dan terampil dalam belajar maupun bekerja. Tantangan, hambatan dan kesulitan adalah wahana atau media pendewasaan kepribadian dan iman kita, maka jangan dihindari atau disingkiri, melainkan hadapilah dengan rendah hati dan bantuan Yang Ilahi. Orang yang menghindari atau menyingkiri tantangan dan kesulitan tersebut pasti akan menjadi kerdil dalam hal kepribadian dan keimanan, dan dengan demikian akan menjadi gangguan dalam hidup bersama. Marilah kita hadapi tantangan, hambatan dan kesulitan dengan 'tekad', dan hayati motto Bapak Andrie Wongso ini: "Tekad merupakan sumber motivasi bagi kemajuan dan kesuksesan! Mereka yang memiliki tekad yang kuat, dia bisa menciptakan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin".


· "Raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku" (Neh 2:8b), demikian kesaksian Nehemia yang terpanggil untuk membangun pekuburan nenek moyangnya. Kesaksian atau pengalaman ini rasanya inspiratif bagi kita semua, tentu saja tidak dalam hal memperbaiki kuburan nenek moyang secara phisik melainkan secara spiritual. Apa yang menjadi 'pekuburan nenek moyang' kiranya aneka macam peninggalan nenek moyang kita yang berupa ajaran atau nasehat-nasehat baik. Karena arus pertumbuhan dan perkembangan hidup bersama yang dijiwai oleh politik dan bisnis, maka ajaran atau nasehat dari nenek moyang tersebut dilupakan atau ditinggalkan, misalnya sopan santun, hormat terhadap sesama atau harkat martabat manusia dst. Sopan santun dan hormat terhadap sesama manusia masa kini rasanya mengalami erosi yang sangat memprihatinkan. Allah yang murah melindungi kita, maka marilah kita perbaiki cara hidup dan cara bertindak yang kurang/tidak sopan dan kurang/tidak menghormati harkat martabat manusia tersebut. Rasanya gerakan berdemokrasi, yang pada dasarnya itu bagus, tidak terkendali (Jawa: 'kebablasen') sehingga orang bertindak begitu bebas alias seenaknya tanpa memperhatikan dan memperhitungkan orang lain atau sesamanya, dan dengan demikian mereka 'mengubur' ajaran dan nasehat nenek moyang yang baik itu. Dengan rendah hati dan lemah lembut marilah kita tegor dan ingatkan saudara atau sesama kita yang bertindak atau berperilaku
seenaknya dan tidak tahu sopan santun maupun hormat terhadap harkat martabat manusia. Kita usahakan hidup bersama ini sungguh manusiawi, sehingga terbuka terhadap dan bertumbuh serta berkembang dengan mudah menuju ke Yang Ilahi.


"Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion. Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu kita menggantungkan kecapi kita. Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian, dan orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita: "Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion!" Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian TUHAN di negeri asing? Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku!" (Mzm 137:1-5)


Jakarta, 3 Oktober 2007

Rm. Ign. Sumarya, S.J.


Selasa, Oktober 02, 2007

"Ia berpaling dan menegor mereka"

(Za 8:20-23; Luk 9:51-56)

"Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?" Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain" (Luk 9:51-56), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta para Malaikat Pelindung hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· "Ia mengarahkan pandanganNya untuk pergi ke Yerusalem" berarti mengarahkan diriNya untuk memenuhi tugas perutusan dan panggilanNya menyelamatkan dunia dengan menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah dan dunia dan wafat di kayu salib. Ia siap sedia untuk menderita, diejek, diolok-olok, disakiti dan dibunuh oleh musuh-musuhNya, orang-orang yang tidak senang akan kehadiranNya. Memenuhi tugas perutusan atau cita-cita atau harapan yang baik dan mulia memang tidak akan terlepas dari penderitaan, korban dan perjuangan, dan para rasul nampaknya belum siap sehingga ketika mereka tahu ada orang-orang Samaria yang tidak akan menerimaNya, mereka berkata : " Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka". Yesus berpaling dan menegor mereka. Mungkin ketika kita sedang dalam 'perjalanan' melaksanakan tugas perutusan dan pekerjaan serta mengalami tantangan, hambatan dan kesulitan juga tergerak untuk menghindar atau mundur atau membunuh orang yang mempersulit kita. Ketika kita sedang memikirkan hal itu mungkin kita merasa tidak enak atau ada tegoran dalam hati, itulah peringatan atau tegoran dari Tuhan melalui malaikat-malaikatNya, yang melindungi dan mendampingi hidup dan perjalanan kita. Maka baiklah ketika memperoleh tegoran macam itu dan dalam suasana bimbang dan ragu, kita 'back to basic', kembali ke panggilan dan tujuan semula, ke niat atau cita-cita baik yang kita putuskan dalam terang iman dan doa. Dengan kata lain jangan lupa berdoa untuk mohon rahmat kekuatan dan perlindungan dari Tuhan ketika menghadapi tantangan, hambatan atau kesulitan; percaya dan imanilah bahwa Ia akan mengutus malaikatNya untuk menguatkan dan melindungi kita, sehingga kita tetap setia dan tegar dalam tugas perutusan dan panggilan. "Di balik setiap batu penghalang pasti ada hikmah yang tersembunyi, dan selalu ada pelajaran yang dapat mematangkan mental kita. hadapi dengan berani setiap batu penghalang", demikian motto Bapak Andrie Wongso, promotor handal di Indonesia.

· "Beginilah firman TUHAN semesta alam: "Masih akan datang lagi bangsa-bangsa dan penduduk banyak kota. Dan penduduk kota yang satu akan pergi kepada penduduk kota yang lain, mengatakan: Marilah kita pergi untuk melunakkan hati TUHAN dan mencari TUHAN semesta alam! Kami pun akan pergi" (Za.8:20-21). "Melunakkan hati Tuhan" berarti menghendaki agar Tuhan mengikuti dambaan atau kerinduan hati kita dan kita tidak sedia untuk mendengarkan dan melaksanakan kehendakNya. "Deus semper maior est" = Tuhan senantiasa lebih besar, maha segalanya, maka tidak mungkin manusia mengalahkan atau menaklukkan-Nya, sedangkan yang mungkin adalah orang tidak setia pada kehendak-Nya dan mengikuti kehendak sendiri atau selera masing-masing. Maka baiklah kita tidak mencoba-coba melunakkan hati Tuhan atau kehendak Tuhan, secara konkret melunakkan atau merelatifir aneka aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas perutusan kita. Aturan dan tatanan merupakan bantuan bagi kita, bagaikan malaikat pelindung, dalam menghayati dan melaksanakan panggilan, tugas perutusan dan pekerjaan. Setiap upaya atau usaha untuk melunakkan atau merelativir aturan, tatanan atau janji hemat saya berasal dari roh jahat atau setan. Memang untuk sementara, karena kelemahan dan kerapuhan kita ada kemungkinan untuk melunakkan atau merelativir, tetapi hendaknya kemudian tidak menjadi semakin lunak dan relatif, tetapi semakin setia dan taat pada tatanan, aturan dan janji sampai pada kepenuhannya. Maka marilah kita coba hayati atau meneladan motto Bapak Andrie Wongso di atas, agar kita semakin matang, dewasa dan cerdas beriman. Sekali lagi ingat dan hayatilah bahwa malaikat pelindung kita tidak pernah meninggalkan kita kapanpun dan dimanapun.

"Di gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangunkan-Nya: TUHAN lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion dari pada segala tempat kediaman Yakub. Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah." (Mzm 87:1-3)

Jakarta, 2 Oktober 2007

Rm. Ign. Sumarya, S.J.

Senin, Oktober 01, 2007

"Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?"

(Yes 66:10-14; Mat 18:1-5)


"Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku."(Mat 18:1-5), demikian
kutipan Warta Gembira hari ini.


Berefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Teresia dari Kanak-kanak Yesus, perawan dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


· Tambah usia, semakin tua dan berpengalaman pada umumnya juga bertambah dosanya, maka kiranya dapat diimani bahwa Yesus bersabda: "Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga". Seorang anak memang rendah hati: siap mendengarkan, polos, taat, jujur, ceria, dst.., dengan kata lain siap sedia diperlakukan apapun
oleh yang lain. Salah satu doa St.Teresia dari Kanak-kanak Yesus yang sungguh menarik adalah :"Yesus, tentu Engkau senang mempunyai mainan. Biralha saya menjadi mainanMu. Anggap saja saya ini bolaMu. Bila akan Kauangkat, betapa senanghatiku. Jika hendak Kausepak kian kemari, silahkan! Dan kalau hendak Kautinggalkan di pojok kamar lantaran bosa, boleh saja. Saya akan menunggu dengan sabar dan setia. Tetapi kalau hendak Kautusuk bolaMu...O, Yesus, tentu itu sakit sekali, namun terjadilah kehendakMu!" (Ensiklopedi Orang Kudus, Yayasan Cipta Loka - Jakarta, hal 292). Apa yang didoakan ini juga dihayati oleh St.Teresia, dengan kata lain ia sungguh menghayati keutamaan ketaatan dengan rendah hati. Keutamaan inilah kiranya yang juga harus kita mohon dari Tuhan dan kita hayati dalam hidup sehari-hari. Ketaatan pertama-tama memang taat kepada kehendak Tuhan, dan kehendak Tuhan antara lain dapat kita temukan atau jumpai juga dalam diri sesama kita yang berkehendak baik atau dalam berbagai aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas perutusan kita masing-masing. Ingat ketika kita dibaptis berjanji: "hanya mengabdi atau melayani Tuhan Allah saja dan menolak semua godaan setan"! Semangat dan sikap melayani erat kaitannya dengan keutamaan ketaatan dan kerendahan hati. Maka jika kita ingin menjadi besar dalam Kerajaan Sorga marilah hidup saling melayani dengan rendah hati.


· "Beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai, dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir; kamu akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan. Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu"(Yes 66:12-13) Kutipan ini kiranya inspiratif bagi kita semua yang hendak hidup dan bertindak melayani dengan rendah hati. Tindakan melayani dengan rendah hati hemat saya akan 'akan mengalirkan keselamatan seperti sungai, membuat orang lain semakin kaya akan keutamaan dan nilai-nilai serta memberi hiburan kepada yang dilayani'. Ingat cara hidup dan cara bertindak pelayan yang baik di rumah tangga , komunitas, atau tempat kerja: bukankah apa yang mereka kerjakan membuat kita semua selamat, gembira dan terhibur. Sebaliknya bukankah ketika tiada pelayan, entah pelayan sakit atau cuti seperti pada hari raya Idul Fitri, kita menjadi kalang kabut, situasi kurang selamat dan merasa terancam? Kutipan di atas mengangkat peran seorang ibu, yang menyusui, menggendong, membelai-belai dan menghibur anaknya, maka baiklah di sini saya mengingatkan dan mengajak para ibu atau rekan perempuan untuk mawas diri: kehadiran dan sepak terjang anda dimanapun dan kapanpun hendaknya menjadi 'hiburan' bagi orang lain atau sesama, tentu saja bukan hiburan murahan sebagaimana dilakukan oleh perempuan penghibur alias pelacur. Namun cara perempuan penghibur atau pelacur melayani dan membahagiakan tamunya, laki-laki hidung belang, kiranya dapat menjadi inspirasi, yaitu bagaimana kita memperlakukan orang lain atau sesama yang mendatangi kita. Hendaknya mereka yang mendatangi atau menyapa kita jangan dikecewakan atau menjadi sedih dan murung, melainkan dihibur dengan rendah hati. Marilah kita saling membantu dan meneguhkan dalam hal saling menghibur atau membahagiakan, karena kita adalah murid-murid atau pengikut Yesus, Pewarta Kabar Gembira. Marilah menjadi seperti anak kecil, yang senantiasa gembira, lucu, menarik dan siap sedia untuk diperlakukan apa saja oleh orang lain.


"TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!" (Mzm 131)


Jakarta, 1 Oktober 2007

Rm. Ign. Sumarya, S.J.


Minggu, September 30, 2007

Topik Fordis (Forum Diskusi) yang saya sukai adalah
(boleh pilih lebih dari 1):



1 Mengelola Diri (Personal Management) 22 (78%)
2 Kepemimpinan (Leadesrship) 22 (78%)
3 Komunikasi (Communication) 20 (71%)
4 Perencanaan Keuangan Pribadi 19 (67%)
5 Kewirausahaan (Entrepreneurship) 19 (67%)
6 Pengembangan Sikap Positif 19 (67%)
7 Public Speaking 17 (60%)
8 Menjalin Relasi 15 (53%)
9 Menjalin Network 15 (53%)
10 Humas (Public Relation) 14 (50%)
11 Perencanaan Karir 13 (46%)
12 Masalah-masalah sosial 11 (39%)
13 Tradisi Gereja Katolik 11 (39%)
14 Pelayanan (Service) 10 (35%)
15 Kitab Suci 10 (35%)
16 Situasi Politik di Indonesia 6 (21%)
17 Kiat Membentuk KKMK di Paroki 4 (14%)
18 Organisasi KKMK 4 (14%)



Votes so far: 28
Poll closed


Hasil selengkapnya dapat dilihat di link A KKMK KAJ POLLING.

RENUNGAN HARI MINGGU BERSAMA RM. MARYA



Mg Biasa XXVIc:

Am 6:1a.4-7; 1Tim 6:11-16; Luk 16:19-31


"Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita."




Ceritera ini saya terima dari rekan sekomunitas yang baru saja bertemu dengan seorang kyai, dan karena bagi saya begitu mengesan maka saya angkat kembali di sini. "Wah bapak uskup nanti kalau naik ke sorga lebih membahagiakan dan nikmat dari saya", demikian kata sang kyai. "Lho kenapa pak kyai, khan pak kyai berdoa lima kali sehari, dan kami kurang dari itu?", tanggapan sang uskup. "Begini, di sorga itu yang ada adalah apa yang belum kita nikmati di dunia ini. Khan para pastor di dunia ini tidak boleh menikmati perempuan atau gadis cantik, dan kami di dunia ini tidak boleh makan sate babi. Jadi di sorga nanti paling-paling kami hanya disediakan sate babi dan para pastor disediakan gadis-gadis cantik dan montok serta dapat memilih seenaknya. Apa yang telah kita nikmati di dunia ini tidak ada lagi di sorga, sedangkan apa yang belum kita nikmati didunia ini di sorga disediakan banyak sekali". Omongan singkat ini mungkin sekedar humor tetapi kalau kita refleksikan secara mendalam rasanya benar juga, sebagaimana disabdakan dalam kisah Injil hari ini : "Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita." (Luk 16:25). Maka marilah kita refleksikan 'dialog antara Abraham dan orang kaya' yang diwartakan dalam Injil hari ini.


"Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita." (Luk 16:25).

Apa yang telah dan sedang kita terima dan nikmati di dunia sampai saat ini? Masing-masing dari kita kiranya berbeda satu sama lain perihal apa yang telah dan sedang diterima atau dinikmati, maka marilah dengan rendah hati, jujur dan transparan kita mawas diri. Dengan ini perkenankan saya secara sederhana memberi contoh-contoh mungkin berguna untuk mawas diri:


1) Suami-isteri. John Gray Ph.D. dalam bukunya yang berjudul "Men Are From Mars, Woman are From Venus", yang diterjemahkan dan diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama-Jakarta 1995 menjadi "Pria dari Mars, Wanita dari Venus", antara lain mengatakan bahwa (1) "Wanita perlu menerima perhatian, pengertian, hormat, kesetiaan, penegasan, jaminan, sedangkan Pria perlu menerima kepercayaan, penerimaan, penghargaan, kekaguman, persetujuan, dorongan" (hal 151). Yang dimaksud dengan wanita dan pria disini adalah isteri dan suami. Maka sebagai bahan refleksi silahkan masing-masing mawas diri: sejauh mana saya telah memberikan apa yang harus diterima dari pasangan hidup saya?


2) Orangtua. Wanita dan pria saling mengasihi menjadi suami-isteri dan karena kasih mereka sungguh dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh alias saling bersetubuh maka ada kemungkinan lahir anak sebagai buah kasih dan dengan demikian suami-isteri juga menjadi orangtua. Anak yang diciptakan / diadakan, dikandung dan dilahirkan oleh dan dalam kasih serta kebebasan juga harus menerima kasih dan kebebasan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Anak harus dididik dan dibina dalam kasih dan kebebasan. Kasih dan kebebasan bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan namun tak dapat dipisahkan. Sejauh mana orangtua telah mendidik dan membina anak dengan baik dan benar?

3) Anak-anak. Sebagai anak kita adalah 'buah kasih' dan telah menerima kasih begitu melimpah ruah dari Allah melalui orangtua kita masing-masing terutama dari ibu. Ingat: kita semua pernah menjadi anak atau saat ini juga masih menjadi anak alias orangtua masih hidup. Maka selayaknya kita sebagai anak hidup dijiwai oleh terima kasih dan syukur serta kemudian mengungkapkan dan mewujudkan terima kasih dan syukur tersebut kepada mereka yang telah mengasihi kita, antara lain dan terutama orangtua/ibu. Ingat syair lagu ini :"Kasih mama kepada beta, tak terhingga sepanjang masa". Kita harus hidup dijiwai terima kasih dan syukur sepanjang masa.

4) Pelajar/mahasiswa/pekerja. Semangat dan sikap belajar hendaknya menjiwai para pelajar, mahasiswa maupun pekerja. Untuk itu memang dibutuhkan keutamaan kerendahan hati, keterbukaan diri untuk menerima segala
kemungkinan dan kesempatan yang dapat mengembangkan dan mendewasakan kita. Para pakar pendidikan menganjurkan agar kita terus belajar sepanjang hidup kita: ongoing education, ongoing formation. Sejauh mana kita memiliki semangat dan sikap belajar serta mewujudkan dengan belajar terus-menerus?

5) Imam/bruder/suster. Imam, bruder atau suster antara lain berjanji untuk 'tetap perawan' alias tidak menikah serta menikmati buah-buah kenikmatan pernikahan yang terkait dengan hubungan seksual. Hidup tidak menikah demi Kerajaan Allah, begitulah motto yang menjadi pegangan. Salah satu buah cara hidup ini adalah persahabatan sejati, lebih-lebih persahabatan antar imam, bruder dan suster sendiri. Maka perkenankan saya kutipkan di sini, pedoman penghayatan dalam taraf psiko-sosial hidup tak menikah ,sebagaimana dikatakan oleh Sr.Joyce Ridick SSCC, Ph.D dalam bukunya "Kaul, harta melimpah dalam bejana tanah liat" (Penerbit Kanisius-Yogkarta 1987), hal 117-118, antara lain sbb: "mencintai kesunyian, mencintai karya dan panggilan hidupnya sendiri, ingin membahagiakan sahabat, kejujuran hati, kebebasan batin, cinta akan doa dan pada Yesus, tidak mengejar persahabatan dengan cara seperti dihayati oleh mereka yang berpacaran atau bertunangan misalnya: sentuhan tangan, birahi, rangsangan seksual dst.., semangat miskin, menghindari gejolak nafsu dan cinta romantis dst."


6) Yang beriman pada Yesus Kristus. Sebagai orang yang beriman pada Yesus Kristus kita diingatkan oleh Paulus demikian: "Engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan"(1Tim 6:11). Apa yang harus dijauhi adalah "cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka."(1Tim 6:10). Orang yang tergila-gila akan uang atau memburu uang memang dengan mudah melupakan atau meninggalkan keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Dengan kata lain jika kita di dunia ini tergila-gila akan uang atau memburu uang, nanti di sorga harus berlatih dan berbuat adil, ibadah, setia, kasih, sabar dan lembut, sebaliknya jika di dunia ini kita senantiasa melakukan dan menghayati keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan, maka di sorga kita akan disediakan uang melimpah ruah.


Sebagai yang beriman pada Yesus Kristus kita dipanggil meneladan cara bertindakNya,sebagaimana diingatkan oleh Paulus tersebut. Menghayati keutamaan-keutamaan tersebut di atas pada dasarnya identik dengan menghormati, memuji dan melayani Tuhan dan sesama di dalam hidup dan kesibukan kerja setiap hari. Maka baiklah secara konkret kita menghormati, memuji dan melayani sesama dan saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun, karena jika di dunia ini kita dapat menghormati, memuji dan melayani sesama maka dengan mudah juga kita beribadah kepada Tuhan: menghormati, memuji dan melayaniNya. Untuk itu kiranya kita senantiasa harus berpikir positif (positive thinking) terhadap sesama kita alias melihat, mengakui dan mengimani apa yang baik, indah, luhur, mulia dalam diri sesama kita atau karya Roh Kudus dalam diri sesama kita yang lemah danrapuh. Pemeriksaan batin atau mawas diri setiap hari merupakan salah satu cara yang mendukung agar kita dapat bersikap dan bertindak demikian itu.


"(Berbahagialah) yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar. TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya. TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun! Haleluya!" (Mzm 146:7-10)


Jakarta, 30 September 2007

Sabtu, September 29, 2007

Renungan Harian bersama Rm. Marya

"Mari dan Lihatlah!"
(Why 12:7-12a; Yoh 1:47-51)


"Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" Yesus menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu." Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia."(Yoh 1:47-51), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan para Malaikat Agung - Mikael, Gabriel dan Rafael - hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


· Mikael adalah malaikat komandan perang dalam melawan dan menundukkan setan atau roh jahat. Dalam kehidupan bersama kita masa kini kiranya godaan untuk berbuat jahat 'melayang-layang' di mana-mana dan banyak orang dengan mudah ditaklukkan oleh godaan tersebut dan berbuat jahat seperti "percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya." (Gal 5:19-21). Maka jika kita sungguh beriman marilah kita lawan dan kalahkan godaan untuk berbuat jahat tersebut bersama dengan St.Mikael alias bersama dan bersatu dengan Tuhan. Bersama dan bersatu denganNya kita pasti dapat mengalahkan berbagai bentuk godaan untuk berbuat jahat, karena bersama dan bersatu dengan Tuhan berarti kita menghayati keutamaan-keutamaan "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri"(Gal 5:22-23) dan dengan keutamaan-keutamaan ini semua bentuk godaan kejahatan dapat kita taklukkan. "Siapa dan apa dapat mengalahkan Tuhan?"


· Gabriel adalah malaikat pembawa Kabar Gembira. Setelah bersama dan bersatu dengan Tuhan mengalahkan dan menaklukkan kejahatan kiranya kita akan bergembira ria, maka marilah bersama dengan St.Gabriel kita teruskan dan wartakan kegembiraan tersebut kepada sesama dan saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun. Jati diri orang beriman dan murid Yesus Kristus adalah pewarta Kabar Gembira, kehadiran dan sepak-terjangnya dimanapun dan kapanpun senantiasa membuat gembira sesamanya, dan mereka semakin bergembira dan beriman kepada Tuhan, sehingga kebersamaan hidup senantiasa menggembirakan. Di dalam kegembiraan semuanya dapat bekerja dengan baik, lancar, cekatan dan berhasil serta hidup saling melayani dan mengasihi. Tidak ada alasan bagi kita semua karena kita telah diselamatkan dan dikasihi Tuhan dengan melimpah ruah melalui saudara dan sesama kita, sehingga kita dapat hidup dan bekerja dengan sehat dan gembira seperti saat ini. Untuk membantu penghayatan kegembiraan ini antara lain senantiasa 'menunduk' alias melihat ke bawah serta melihat dan menghayati apa yang baik, indah, luhur dan mulia dalam diri kita. Bukankah kita lebih beruntung dan berbahagia atau selamat dibandingkan sekian banyak orang yang menderita karena kelaparan, sakit atau menjadi korban keserakahan dan kekerasan?


· Rafael adalah malaikat 'penyembuhan' . Memang tidak semua di antara kita baik, selamat dan bahagia; masih banyak orang yang menderita dan sakit , entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi atau sakit tubuh. Bersama dengan malaikat agung Rafael kita dipanggil untuk menyembuhkan mereka yang menderita dan sakit. Maka baiklah kepada mereka yang menderita karena lapar, haus atau tidak memiliki tumpangan atau tempat berteduh, kita usahakan untuk memberi makanan, minuman dan tempat berteduh yang layak, entah dari kekayaan kita sendiri atau kita mencari sumbangan dari orang kaya. Kepada mereka yang sakit hati kita ampuni dan sapa dengan kasih, kepada yang sakit jiwa kita bimbing dan dampingi dengan rendah hati dan penuh kasih, kepada yang sakit akal budi alias bodoh kita didik atau ajar dengan menghayati motto Ki Hajar Dewantoro 'ing arso asung tulodo, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani' (keteladanan, pemberdayaan dan dorongan atau motivasi), sedangkan kepada mereka yang sakit tubuh kita obati dan kunjungi. Berpartisipasi dalam 'karya penyembuhan atau penyelamatan' tidak akan terlepas dari penderitaan, korban dan perjuangan, sebagaimana telah dihayati dan dialami oleh Yesus Kristus, Tuhan, Guru dan Sahabat kita. "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu" (Yoh 16:20-22), demikian sabda Yesus kepada kita semua.


"Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu. Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu."(Mzm 138:1-2)


Jakarta, 29 September 2007

Jumat, September 28, 2007

Renungan Harian Bersama Rm. Marya


"Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan"


(Hag 1:15b-2:9; Luk 9:18-22)



"Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah murid-murid- Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka: "Kata orang banyak, siapakah Aku ini?" Jawab mereka: "Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit." Yesus bertanya kepada mereka: "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" Jawab Petrus: "Mesias dari Allah." Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun. Dan Yesus berkata: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga." (Luk 9:18-22)


Berefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


· Berpartisipasi dalam karya penyelamatan dunia di tengah-tengah situasi dan kondisi dunia yang sarat dengan kebejatan atau kemorosotan moral seperti korupsi, judi, porno, ketidak-setiaan pada panggilan dan tugas perutusan dll. masa kini kiranya tidak akan terlepas dari tantangan dan penderitaan. Apalagi kalau kita lihat dan cermati aneka macam bentuk kekerasan yang masih marak di dalam hidup berkeluarga, karena keluarga merupakan dasar hidup bersama di tengah masyarakat. Maka sebagai murid-murid atau yang beriman kepada Yesus Kristus yang setia, kiranya kita akan mengalami sebagaimana Ia sabdakan untuk DiriNya: "Anak manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat". Merenungkan kutipan Warta Gembira hari ini saya juga teringat kata-kata dari bapak Yudi Latiff dari Universitas Paramadina-Jakarta ketika menyampaikan masukan dalam Seminar Pendidikan di Kolese Kanisiius tgl 7 September yang lain. "Yang berkembang di masyarakat kita saat ini adalah bahasa politik dan bahasa ekonomi atau bisnis, dan kita semua di dalam pendidikan diharapkan memakai bahasa kebenaran", begitulah kurang lebih yang dikatakan oleh bapak Yudi Latiff. Berpartipasi dalam karya penyelamatan dunia harus berbahasa kebenaran, dan untuk itu akan menghadapi bahasa politik dan bahasa ekonomi atau bisnis yang cukup atau sangat kuat dalam kehidupan bersama pada saat ini. Berbahasa kebenaran alias membawa dan mewartakan kebenaran akan menghadapi penderitaan, bahkan dapat menjadi korban alias mati. Namun demikian marilah kita setia berbahasa kebenaran, mewartakan atau membawa kebenaran dalam hidup, tugas perkerjaan dan pelayanan kita, percayalah jika kita terpaksa menjadi korban atau mati pasti akan tumbuh atau muncul pembawa-pembawa kebenaran yang lebih banyak lagi. "Mati satu tumbuh seribu", demikian kata sebuah pepatah.


· "Beginilah firman TUHAN semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam" (Hag 2:7-8) Kutipan di atas ini rasanya inspiratif bagi para pejuang dan pembela kebenaran. Kebenaran berasal dari Tuhan, maka Tuhan senantiasa akan menyertai para pejuang dan pembela kebenaran dimanapun dan kapanpun. Memang buah perjuangan dan pembelaan belum tentu dapat kita nikmati saat ini oleh kita sendiri, tetapi tetap tegar dan bergembiralah hai para pembela dan pejuang kebenaran dan renungkan serta imani firman Tuhan semesta alam ini: "Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat, Aku akan menggoncangkan segala bangsa". Kami yakin dalam kegoncangan tersebut para pejuang dan pembela kebenaran masih tetap tegak dan tegar berdiri, sementara itu para pembohong dan yang sombong akan jatuh, hancur berantakan. Kebenaran pasti akan menang atas kejahatan, kebohongan dan kesombongan, kebenaran akan abadi dan pasti sedangkan kebohongan dan kesombongan hanya bersifat sementara atau sesaat saja serta merupakan buah tipu daya setan yang menyengsarakan. Maka meskipun para pejuang dan pembela kebenaran sering harus berjuang sendirian, hendaknya tetap tegar dan tenang dalam hidup dan perjalanan. Sekali lagi kita juga dapat berrefleksi atau merenungkan sabda ini :"Adalah lebih berguna jika satu orang mati untuk seluruh bangsa."(Yoh 18:14). Satu orang yang dimaksudkan di sini adalah Yesus, yang telah wafat di kayu salib demi keselamatan seluruh bangsa dan seluruh dunia. Mungkin para pejuang dan pembela kebenaran tidak identik dengan apa yang dialami oleh Yesus, namun sekiranya mendekati tetaplah tegar, tenang dan gembira.


"Berilah keadilan kepadaku, ya Allah, dan perjuangkanlah perkaraku terhadap kaum yang tidak saleh! Luputkanlah aku dari orang penipu dan orang curang! Sebab Engkaulah Allah tempat pengungsianku. Mengapa Engkau membuang aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh? Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu! Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku!" (Mzm 43:1-4)


Jakarta, 28 September 2007