Jumat, September 28, 2007

Renungan Harian Bersama Rm. Marya


"Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan"


(Hag 1:15b-2:9; Luk 9:18-22)



"Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah murid-murid- Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka: "Kata orang banyak, siapakah Aku ini?" Jawab mereka: "Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit." Yesus bertanya kepada mereka: "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" Jawab Petrus: "Mesias dari Allah." Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun. Dan Yesus berkata: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga." (Luk 9:18-22)


Berefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


· Berpartisipasi dalam karya penyelamatan dunia di tengah-tengah situasi dan kondisi dunia yang sarat dengan kebejatan atau kemorosotan moral seperti korupsi, judi, porno, ketidak-setiaan pada panggilan dan tugas perutusan dll. masa kini kiranya tidak akan terlepas dari tantangan dan penderitaan. Apalagi kalau kita lihat dan cermati aneka macam bentuk kekerasan yang masih marak di dalam hidup berkeluarga, karena keluarga merupakan dasar hidup bersama di tengah masyarakat. Maka sebagai murid-murid atau yang beriman kepada Yesus Kristus yang setia, kiranya kita akan mengalami sebagaimana Ia sabdakan untuk DiriNya: "Anak manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat". Merenungkan kutipan Warta Gembira hari ini saya juga teringat kata-kata dari bapak Yudi Latiff dari Universitas Paramadina-Jakarta ketika menyampaikan masukan dalam Seminar Pendidikan di Kolese Kanisiius tgl 7 September yang lain. "Yang berkembang di masyarakat kita saat ini adalah bahasa politik dan bahasa ekonomi atau bisnis, dan kita semua di dalam pendidikan diharapkan memakai bahasa kebenaran", begitulah kurang lebih yang dikatakan oleh bapak Yudi Latiff. Berpartipasi dalam karya penyelamatan dunia harus berbahasa kebenaran, dan untuk itu akan menghadapi bahasa politik dan bahasa ekonomi atau bisnis yang cukup atau sangat kuat dalam kehidupan bersama pada saat ini. Berbahasa kebenaran alias membawa dan mewartakan kebenaran akan menghadapi penderitaan, bahkan dapat menjadi korban alias mati. Namun demikian marilah kita setia berbahasa kebenaran, mewartakan atau membawa kebenaran dalam hidup, tugas perkerjaan dan pelayanan kita, percayalah jika kita terpaksa menjadi korban atau mati pasti akan tumbuh atau muncul pembawa-pembawa kebenaran yang lebih banyak lagi. "Mati satu tumbuh seribu", demikian kata sebuah pepatah.


· "Beginilah firman TUHAN semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam" (Hag 2:7-8) Kutipan di atas ini rasanya inspiratif bagi para pejuang dan pembela kebenaran. Kebenaran berasal dari Tuhan, maka Tuhan senantiasa akan menyertai para pejuang dan pembela kebenaran dimanapun dan kapanpun. Memang buah perjuangan dan pembelaan belum tentu dapat kita nikmati saat ini oleh kita sendiri, tetapi tetap tegar dan bergembiralah hai para pembela dan pejuang kebenaran dan renungkan serta imani firman Tuhan semesta alam ini: "Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat, Aku akan menggoncangkan segala bangsa". Kami yakin dalam kegoncangan tersebut para pejuang dan pembela kebenaran masih tetap tegak dan tegar berdiri, sementara itu para pembohong dan yang sombong akan jatuh, hancur berantakan. Kebenaran pasti akan menang atas kejahatan, kebohongan dan kesombongan, kebenaran akan abadi dan pasti sedangkan kebohongan dan kesombongan hanya bersifat sementara atau sesaat saja serta merupakan buah tipu daya setan yang menyengsarakan. Maka meskipun para pejuang dan pembela kebenaran sering harus berjuang sendirian, hendaknya tetap tegar dan tenang dalam hidup dan perjalanan. Sekali lagi kita juga dapat berrefleksi atau merenungkan sabda ini :"Adalah lebih berguna jika satu orang mati untuk seluruh bangsa."(Yoh 18:14). Satu orang yang dimaksudkan di sini adalah Yesus, yang telah wafat di kayu salib demi keselamatan seluruh bangsa dan seluruh dunia. Mungkin para pejuang dan pembela kebenaran tidak identik dengan apa yang dialami oleh Yesus, namun sekiranya mendekati tetaplah tegar, tenang dan gembira.


"Berilah keadilan kepadaku, ya Allah, dan perjuangkanlah perkaraku terhadap kaum yang tidak saleh! Luputkanlah aku dari orang penipu dan orang curang! Sebab Engkaulah Allah tempat pengungsianku. Mengapa Engkau membuang aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh? Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu! Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku!" (Mzm 43:1-4)


Jakarta, 28 September 2007

Tidak ada komentar: