Selasa, Oktober 02, 2007

"Ia berpaling dan menegor mereka"

(Za 8:20-23; Luk 9:51-56)

"Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?" Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain" (Luk 9:51-56), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta para Malaikat Pelindung hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· "Ia mengarahkan pandanganNya untuk pergi ke Yerusalem" berarti mengarahkan diriNya untuk memenuhi tugas perutusan dan panggilanNya menyelamatkan dunia dengan menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah dan dunia dan wafat di kayu salib. Ia siap sedia untuk menderita, diejek, diolok-olok, disakiti dan dibunuh oleh musuh-musuhNya, orang-orang yang tidak senang akan kehadiranNya. Memenuhi tugas perutusan atau cita-cita atau harapan yang baik dan mulia memang tidak akan terlepas dari penderitaan, korban dan perjuangan, dan para rasul nampaknya belum siap sehingga ketika mereka tahu ada orang-orang Samaria yang tidak akan menerimaNya, mereka berkata : " Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka". Yesus berpaling dan menegor mereka. Mungkin ketika kita sedang dalam 'perjalanan' melaksanakan tugas perutusan dan pekerjaan serta mengalami tantangan, hambatan dan kesulitan juga tergerak untuk menghindar atau mundur atau membunuh orang yang mempersulit kita. Ketika kita sedang memikirkan hal itu mungkin kita merasa tidak enak atau ada tegoran dalam hati, itulah peringatan atau tegoran dari Tuhan melalui malaikat-malaikatNya, yang melindungi dan mendampingi hidup dan perjalanan kita. Maka baiklah ketika memperoleh tegoran macam itu dan dalam suasana bimbang dan ragu, kita 'back to basic', kembali ke panggilan dan tujuan semula, ke niat atau cita-cita baik yang kita putuskan dalam terang iman dan doa. Dengan kata lain jangan lupa berdoa untuk mohon rahmat kekuatan dan perlindungan dari Tuhan ketika menghadapi tantangan, hambatan atau kesulitan; percaya dan imanilah bahwa Ia akan mengutus malaikatNya untuk menguatkan dan melindungi kita, sehingga kita tetap setia dan tegar dalam tugas perutusan dan panggilan. "Di balik setiap batu penghalang pasti ada hikmah yang tersembunyi, dan selalu ada pelajaran yang dapat mematangkan mental kita. hadapi dengan berani setiap batu penghalang", demikian motto Bapak Andrie Wongso, promotor handal di Indonesia.

· "Beginilah firman TUHAN semesta alam: "Masih akan datang lagi bangsa-bangsa dan penduduk banyak kota. Dan penduduk kota yang satu akan pergi kepada penduduk kota yang lain, mengatakan: Marilah kita pergi untuk melunakkan hati TUHAN dan mencari TUHAN semesta alam! Kami pun akan pergi" (Za.8:20-21). "Melunakkan hati Tuhan" berarti menghendaki agar Tuhan mengikuti dambaan atau kerinduan hati kita dan kita tidak sedia untuk mendengarkan dan melaksanakan kehendakNya. "Deus semper maior est" = Tuhan senantiasa lebih besar, maha segalanya, maka tidak mungkin manusia mengalahkan atau menaklukkan-Nya, sedangkan yang mungkin adalah orang tidak setia pada kehendak-Nya dan mengikuti kehendak sendiri atau selera masing-masing. Maka baiklah kita tidak mencoba-coba melunakkan hati Tuhan atau kehendak Tuhan, secara konkret melunakkan atau merelatifir aneka aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas perutusan kita. Aturan dan tatanan merupakan bantuan bagi kita, bagaikan malaikat pelindung, dalam menghayati dan melaksanakan panggilan, tugas perutusan dan pekerjaan. Setiap upaya atau usaha untuk melunakkan atau merelativir aturan, tatanan atau janji hemat saya berasal dari roh jahat atau setan. Memang untuk sementara, karena kelemahan dan kerapuhan kita ada kemungkinan untuk melunakkan atau merelativir, tetapi hendaknya kemudian tidak menjadi semakin lunak dan relatif, tetapi semakin setia dan taat pada tatanan, aturan dan janji sampai pada kepenuhannya. Maka marilah kita coba hayati atau meneladan motto Bapak Andrie Wongso di atas, agar kita semakin matang, dewasa dan cerdas beriman. Sekali lagi ingat dan hayatilah bahwa malaikat pelindung kita tidak pernah meninggalkan kita kapanpun dan dimanapun.

"Di gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangunkan-Nya: TUHAN lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion dari pada segala tempat kediaman Yakub. Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah." (Mzm 87:1-3)

Jakarta, 2 Oktober 2007

Rm. Ign. Sumarya, S.J.

Tidak ada komentar: