Rabu, Oktober 03, 2007

"Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang"


(Neh 2:1-8; Luk 9:57-62)


"Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: "Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Lalu Ia berkata kepada seorang lain: "Ikutlah Aku!" Tetapi orang itu berkata: "Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana." Dan seorang lain lagi berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku." Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah."(Luk 9:57-62), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


· "Demenyar" = demen sing anyar (=Suka apa yang baru), demikian rumor bahasa Jawa, yang menggambarkan sikap seseorang hanya suka atau bahagia terhadap apa-apa yang baru, sedangkan yang lama kurang diperhatikan bahkan dilecehkan. Ketika baru saja dibaptis nampak semangat iman dan beragama hebat, ketika baru saja saling berjanji menjadi suami-isteri alias menikah nampak bahagia dalam saling mengasihi, ketika baru saja kaul atau ditahbiskan imam nampak begitu bergairah dalam bekerja dan melayani, ketika menjadi pegawai baru bergairah dalam kerja, ketika menjadi pelajar atau mahasiswa baru giat belajar dst., tetapi dalam perjalanan waktu yang sarat dengan tantangan dan kesulitan serta hambatan, semangat dan sikap yang bergelora tersebut luntur. Dengan kata lain ketika menghadapi tantangan, hambatan atau kesulitan sering dengan mudah orang lebih baik mundur alias melupakan janji-janji yang pernah diikhrarkan dengan bangga: keimanan, kekatolikan, kemesraan dalam kasih, semangat dan sikap melayani, gairah belajar dan bekerja pudar semuanya. "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah", demikian sabda Yesus. Maka bercermin dari sabda Yesus ini marilah kita tetap setia pada panggilan dan tugas perutusan kita masing-masing, sehingga kita semakin beriman, saling mengasihi, melayani dan terampil dalam belajar maupun bekerja. Tantangan, hambatan dan kesulitan adalah wahana atau media pendewasaan kepribadian dan iman kita, maka jangan dihindari atau disingkiri, melainkan hadapilah dengan rendah hati dan bantuan Yang Ilahi. Orang yang menghindari atau menyingkiri tantangan dan kesulitan tersebut pasti akan menjadi kerdil dalam hal kepribadian dan keimanan, dan dengan demikian akan menjadi gangguan dalam hidup bersama. Marilah kita hadapi tantangan, hambatan dan kesulitan dengan 'tekad', dan hayati motto Bapak Andrie Wongso ini: "Tekad merupakan sumber motivasi bagi kemajuan dan kesuksesan! Mereka yang memiliki tekad yang kuat, dia bisa menciptakan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin".


· "Raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku" (Neh 2:8b), demikian kesaksian Nehemia yang terpanggil untuk membangun pekuburan nenek moyangnya. Kesaksian atau pengalaman ini rasanya inspiratif bagi kita semua, tentu saja tidak dalam hal memperbaiki kuburan nenek moyang secara phisik melainkan secara spiritual. Apa yang menjadi 'pekuburan nenek moyang' kiranya aneka macam peninggalan nenek moyang kita yang berupa ajaran atau nasehat-nasehat baik. Karena arus pertumbuhan dan perkembangan hidup bersama yang dijiwai oleh politik dan bisnis, maka ajaran atau nasehat dari nenek moyang tersebut dilupakan atau ditinggalkan, misalnya sopan santun, hormat terhadap sesama atau harkat martabat manusia dst. Sopan santun dan hormat terhadap sesama manusia masa kini rasanya mengalami erosi yang sangat memprihatinkan. Allah yang murah melindungi kita, maka marilah kita perbaiki cara hidup dan cara bertindak yang kurang/tidak sopan dan kurang/tidak menghormati harkat martabat manusia tersebut. Rasanya gerakan berdemokrasi, yang pada dasarnya itu bagus, tidak terkendali (Jawa: 'kebablasen') sehingga orang bertindak begitu bebas alias seenaknya tanpa memperhatikan dan memperhitungkan orang lain atau sesamanya, dan dengan demikian mereka 'mengubur' ajaran dan nasehat nenek moyang yang baik itu. Dengan rendah hati dan lemah lembut marilah kita tegor dan ingatkan saudara atau sesama kita yang bertindak atau berperilaku
seenaknya dan tidak tahu sopan santun maupun hormat terhadap harkat martabat manusia. Kita usahakan hidup bersama ini sungguh manusiawi, sehingga terbuka terhadap dan bertumbuh serta berkembang dengan mudah menuju ke Yang Ilahi.


"Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion. Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu kita menggantungkan kecapi kita. Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian, dan orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita: "Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion!" Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian TUHAN di negeri asing? Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku!" (Mzm 137:1-5)


Jakarta, 3 Oktober 2007

Rm. Ign. Sumarya, S.J.


Tidak ada komentar: